Selasa, 22 Maret 2011

Celi's smile

Saya seumur hidup baru 3 kali pacaran.

Tapi pelajaran berharga saya pacaran adalah dengan yang kedua.

Saya seolah dead end dengan yang kedua ini. Pacaran kami pun terbilang awet, 2 tahunan, hampir 3 tahun.

Saya waktu itu enggan beralih darinya.

Ini membuat saya terinjak-injak dan sering teremehkan dan saya mengabaikan hal itu.

Entahlah itu harta atau rupa yang membuat saya direndahkan.

Karena saya merasa saya lah yang terbaik untuknya. Nobody does it better. But once again, love is blind (and nearly stupid I think)

Sehingga saya menghiba2 memintanya untuk jangan pergi meninggalkan saya. Dan disambut ketawa2 kecil oleh nya. Meremehkan mungkin.

Sampai akhirnya dia ditinggal oleh pacar barunya itu.

Dan dia tidak terima dan malah menyalahkan saya.

Saya sedih. Saya bingung. Kenapa dia tetap memojokkan saya, no matter what.

Saya mengevaluasi hubungan pacaran kami waktu itu. Saya belajar bahwa saya terlalu kaku dan kadang tidak hormat padanya.

Saya sadar kesalahan saya. Dengan sisa2 cinta yang saya punya, saya tetap menyimpan perasaan itu pada mantan saya itu.

Agak drama sih memang.

Tapi, dalam perenungan itu, saya juga kehilangan dia lagi.

Karena dia jadian lagi dengan teman, mantan pacar barunya tadi.

Yah, saya kembali terlupakan.

Dan saya memutuskan untuk menjauh dari hidupnya dan tidak berkomunikasi dalam bentuk apapun.

Once again, sok drama banget..

Sampai pada akhirnya, saya mengetahui bahwa dia sudah tidak dengan siapapun.

Maka saya beranikan diri untuk menjalin komunikasi lagi dengannya.

Gayung bersambut.

Tapi kali ini dia (tetap) membandingkan saya dengan perempuan lain yang secara karakter benar2 jauh berbeda.

Saya kembali bersedih.

Tapi saya berusaha stay strong. Karena menurut saya, saya tetap yang terbaik.

Sampai akhirnya dia menanyakan ini kepada saya: “Kamu kok terobsesi sekali sih sama aku?”

Saya tertegun..

Begitu ya? Iya, kenapa ya? Saya jadi sadar.

Bahwa (mungkin) yang saya punya sepertinya bukan cinta.

Pertanyaannya membuka mata saya bahwa kala itu saya tidak cinta. Tapi terobsesi.

Saya sadar.

Saya pun jiper dengan kesempurnaan perempuan lain yang didamba-dambakannya kepada saya.

Saya menyerah.

Saya tidak mengatakan apapun.

Saya simpan rapat2 perasaan saya.

Saya ingin maju.

Saya juga ingin bahagia.

Saya dicintai oleh seorang yang sederhana.

Yang bersamanya, saya merasa tenang.

Itu dia pacar saya yang ke-3.

Insya Allah.

Perlahan senyumku kembali..

*perhaps, my story is not too drama*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar